Jumat, 31 Mei 2013

Ketika Musibah Datang, just say "Thanks God"

Salam terhangat dariku teman-teman blogger. Waw..padahal postingan pertama, tapi yang dibahas malah musibah. hehe.. Tapi tenaaang, ini cerita gak akan bikin bete, suntuk, madesu alias masa depan suram kok! (mudah-mudahan itu juga..). Simak baik-baik, baca baik-baik aja deh pokoknya. Let's read it guys! enjoy it! Senyum dulu napa sebelum baca??? :)

Yaah, namanya juga hidup, kadang dibawah, kadang diatas, roda selalu berputar kawan, tidak akan berhenti di satu titik. Baik itu titik teratas, maupun titik nol! atau titik terbawah. Siapakah yang memutarnya? Dialah Alloh, sang Maha Berkehendak. Kita sebagai makhluk ciptaannya, hanya mampu berencana, berusaha, dan bertawakal atas hasilnya kemudian. Ada beberapa tipe orang ketika dihadapkan suatu musibah.Ini versiku yaa..
1. Menerimanya, kemudian bersyukur mengambil hikmahnya.
2. Menerimanya, namun selalu menggerutu.
3. Tidak mau menerima, menggerutu, bahkan menyalahkan orang lain atas kejadian yang menimpanya.

Untuk tipe yang pertama.

Kalian tahu kawan, kisah Rosul, Muhammad s.a.w, nabi akhir jaman yang mempunyai hati yang lapang ketika beliau ditimpa musibah. Sesulit apapun itu, Rosul selalu menerimanya, beliau selalu menemukan hikmah disetiap peristiwa yang dilaluinya. Banyak umatnya yang mendzholiminya bukan? tapi siapakah yang Rosul ingat menjelang hari terakhirnya didunia? Ummati, Ummati..yang berarti Umatku, Umatku. Subhanalloh..

Mungkin jika itu saja yang ku beritahu, hati kalian belum merasakan betapa perjuangannya amat sangat berarti untuk kita bukan? Baiklah, akan kuceritakan salah satu dari banyaknya musibah/ ujian yang dihadapi Rosul.

Rosul pernah dilempari, maaf, kotoran manusia, di kencingi nya oleh musuh-musuhnya ketika hendak menjalankan perintah Alloh. Sekarang, dari hal itu saja, bandingkan dengan kondisi kalian yang sekarang. Pernahkah kalian menghadapi kejadian yang sama seperti Rosul? 
misalnya, di kencingi ketika sholat, dilempari kotoran ketika duduk tenang mendengarkan ceramah di majlis-majlis, dicaci maki ketika berdzikir, puasa, zakat. Pernahkah? Ketika berdzikir di angkot misalnya, kalian tiba-tiba di cacimaki dengan kata-kata binatang. Pernahkah? Lalu apa tindakan kalian? Aku sendiri, mungkin aku akan menangis, mengadu kepada orang tua, mengadu kepada teman terdekat apa yang telah terjadi ketika itu.
Kembali kepada cerita Rosul, ketika beliau mendapati kotoran berada dibadannya, kemudian sang buah hatinya, Fatimah menangis melihat keadaan tersebut. Apa yang Rosul katakan? Rosul mengatakan bahwa Mereka tidak akan melakukan hal tersebut melainkan hanya karena ketidak tahuan mereka. 
Simak baik-baik perkataannya kawan, apakah belum cukup beliau dikatakan sebagai manusia yang mulia? Keren bukan? seseorang yang sudah terdzholimi seperti itu, masih bisa bersabar dan berkata seperti itu.

Bandingkan lagi dengan kondisi di zaman sekarang ini, dimana banyak orang-orang yang melakukan perbuatan yang jauh dari kata "baik", misalnya saja kenek bus, yang sering sekali buat hati jengkel karena ulahnya yang tidak mau tahu dengan kondisi penumpangnya. Mungkin untuk kawan-kawan yang kerjanya di daerah Cibinong, Gunung Putri, Karawang, Jonggol (yang sejurusan dengan itu) dan sering menggunakan metromini jurusan Jonggol, pasti sudah tau bagaimana 'crowded' nya kondisi bus di jam pulang kerja. Kecilnya bus tidak sebanding dengan penumpang yang begitu banyaknya. Bisa jadi saking penuhnya penumpang, disenggol sedikit saja penumpang yang berdiri dekat pintu bus, seketika itu pun bisa jatuh bila pintu bus tidak ditutup. Kemudian, bagaimana sikap kita sebagai penumpang? semoga teladan Rosul bisa kita tiru ya kawan. Ingin jadi tipe orang yang pertama? maka bersabarlah, maka ingatlah teladan Rosul, maka milikilah hati yang lapang, luas, kemudian isilah dengan hal-hal yang baik dan positif, sehingga kejadian seperti apapun, kita ibaratkan itu sebagai titik yang tidak akan mempengaruhi hati kita. Kenapa bisa tidak berpengaruh? Karena kita sudah memiliki hati yang luas, dimana hati tersebut kita isi dengan hal-hal positif. Aamiin deh ya Alloh..

Lanjut kawan, tipe kedua

Siapa siih, yang gak kecewa bila ada sesuatu yang buruk menimpa diri sendiri? Aku juga pernah mengalaminya, pernah merasakannya, musibah terburuk yang pernah ku alami, justru baru terjadi 1 minggu kemarin. Bayangkan saja, baru saja menerima gaji dihari itu, hari itu pula ludes karena kecopetan. Keren kan?! but it's His plan, any something special after this, I'am sure!. Selalu aku tekankan berulang-ulang kalimat itu didalam hati ketika peristiwa itu sekelibat datang kembali dimemoriku ketika ku sedang sendiri.
Ya, itulah rencana Alloh, mungkin aku tidak pantas menerimanya, mungkin ada sesuatu yang lain bila ku menerimanya, maka Alloh memainkan 'drama' ketika itu. Bersyukur ku mempunyai keluarga yang mengerti, dapat menenangkanku ketika itu. Bersyukur pula aku telah dibiasakan untuk membaca al-ma'tsurat setiap hari, sehingga bila ada sesuatu yang buruk menimpaku, aku selalu berdoa versi al-ma'tsurat tersebut. Kekecewaanku tidak berlarut-larut menempel dalam diriku. Bersyukur sekali..
Mungkin aku sendiri termasuk dalam tipe ini. 

Ada juga rekanku yang ketika dia menghadapi musibah, dia malah mencaci, menyalahkan orang lain. Padahal musibah datang bisa jadi karena Alloh rindu akan rintihan kita, atau Alloh menyukai cara kita berdoa kepada Nya. *tsahhh...So sweet banget yaa..hehee..
Jadi ketika itu gaji bulanan yang seharusnya cair tanggal 30, namun belum juga cair sampai tanggal 2, kami hanya bisa menunggu sebagai karyawan. Tanggal 3 berlalu.. namun gaji belum juga turun, kemudian tanggal 4, masih juga belum turun. Keesokan harinya, baru lah gaji tersebut cair. Selama masa 'idah tersebut ituu..beberapa rekanku ada yang mengomel di media sosial, menjelek-jelekan admin, menjelek-jelekan atasan, dengan alasan tidak becus menjalankan tugasnya. Bahkan, sampai-sampai dibilangnya kafir lah, mentang-mentang atasannya non muslim. Tapi menurutku, itu benar-benar perbuatan yang tidak patut dilakukan. Meskipun non muslim, bukankah banyak kebaikan yang dia peroleh darinya.. hmm..entahlah menurut kalian. Tapi bagiku, aku lebih menghargai seorang non muslim yang bersikap baik, bertutur kata baik, menghargai pekerjaanku dibanding seorang muslim, tetapi berbicara kasar, dan sama sekali tidak menghargai pekerjaanku. Bukankah seorang muslim sudah tahu, bahwa Alloh tidak akan menimpakan sesuatu musibah, melainkan Alloh mengetahui bahwa hambaNya tersebut dapat melalui musibah tersebut. Sebaiknya kita harus banyak memahami, harus banyak belajar, harus mau mencari hikmah dibalik peristiwa yang menimpa kita. Karena hikmah tidak datang begitu saja tanpa kita mencarinya dan menerimanya.

Lanjut ke tipe ketiga
Waah, kayaknya ini niih tipe yang paling paling tidak boleh ditiru. Sudah ditimpa musibah, bertambah pula dosanya karena terus menggerutu apalagi menyalahkan orang lain. Waw! Selamat deh buat kamu yang selalu begini! Ingat kawan. Besar kecilnya musibah yang menimpa seseorang itu dilihat dari bagaimana cara seseorang tersebut menghadapinya. Misalnya saja, dua orang yang sama-sama tertimpa musibah, rumahnya di gusur karena mereka membangun rumah diatas tanah milik pemerintah. Sebut saja mereka Rey dan Reva.

Rey menjalani kehidupannya setelah itu dengan banyak-banyak beribadah, mencari solusi, banyak beramal meskipun dalam keadaan baru saja tertimpa musibah. Dia tetap bisa melanjutkan hidup dengan tenang, karena dia mempunyai iman, dia percaya bahwa Alloh akan memberikan jalan yang terbaik untuknya. Dia rajin sholat dan sedekah, dia renungkan peristiwa yang telah terjadi. Dia selalu berfikir positif, inilah jalan lain yang direncanakan sang Maha Pencipta untuk menjauhkan dari hal-hal yang lebih buruk lagi mungkin. Mungkin akan ada hal yang jauh lebih buruk dari ini bila rumahnya tidak digusur. 

Jauh berbeda dengan Reva, yang putus asa, selalu menggerutu, mengutuk pemerintah, mengutuk petugas-petugas yang telah menggusur rumahnya tersebut. Hari-harinya dipenuhi dengan rasa kesal dan kesal terus menerus. Dia selalu terlihat murung, jangankan untuk menyapa seseorang, disapa saja dia tidak mau menjawab. Malas sekali dia memberikan wajah yang berseri kepada setiap orang yang menyapanya. Selalu dan selalu marah, berteriak mengapa semuanya terjadi padanya, mengapa pemerintah tidak mengerti keadaan rakyatnya. Dia tidak berfikir bahwa ada Alloh yang selalu ada untuknya, bahwa ada Alloh yang siap membantunya selalu, apalagi jika dia berusaha untuk mendekatkan diri padanya. 

Itulah musibah, bagaimana cara seseorang menghadapinya, belum tentu yang selalu bersikap tenang tidak mempunyai musibah bukan? belum tentu juga yang selalu mengomel setiap hari di media sosial misalnya, sedang mengalami musibah yang besar kan? 
Jujur saja, aku sendiri pun sedang berproses untuk menjadi lebih, lebih baik lagi. Ketika dihadapkan dengan musibah, ku anggap itulah cara Alloh rindu padaku, Alloh ingin aku dekat denganNya, Alloh ingin aku lebih dekat denganNya.
Jadi kawan, termasuk yang manakah dirimu?
Semoga tulisanku ini bermanfaat dan dapat kalian amalkan bila terdapat manfaat yang baik didalamnya.








Tidak ada komentar:

Posting Komentar