Masing-masing manusia adalah spesial, tidak ada yang tidak spesial. No matter, baik dia adalah seorang presiden, guru, dokter, sopir, tukang ojek, tukang becak, penjual, pengusaha, preman sekalipun, semuanya mempunyai kisah hidup yang spesial. Dikemas dengan baik olehNya untuk masing-masing hambaNya.
Seberapapun kerasnya hidup ini, apapun skenarioNya, mau tidak mau, suka tidak suka, bahagia tidak bahagia, kita yang mempunyai jabatan sebagai seorang makhluk dihadapanNya, haruslah melewati skenario tersebut. Teringat akan ceramah seorang ustad, yang isinya kurang lebih seperti ini.
"Pada akhirnya nanti, Dia tidak akan menanyakan seberapa banyak harta kita, seberapa banyak teman kita, seberapa banyak relasi kita, rumah, mobil, usaha, bahkan tidak akan bertanya seberapa miskinkah hidup kita. Melainkan, Dia menanyakan bagaimana cara kita menerima dan menjalankan semua yang Dia berikan. Apakah dijalan yang baik dan benar atau malah sebaiknya."
Baiklah, disini aku tidak akan membahas bagaimana caranya untuk menjalankan hidup dengan baik dan benar. Aku disini ingin bercerita sepotong kisah hidup seseorang. Sebut saja dia Tirza.
Tirza, seorang wanita yang berumur 22 tahun. Seorang muslim yang selalu mencoba menjadi lebih baik setiap harinya. Wanita biasa, yang terlahir dari keluarga yang sangat sederhana, namun mempunyai tekad luar biasa untuk menjalankan hidupnya. Terlahir dari keluarga yang selalu menanamkan nilai-nilai Islam sejak dini, disiplin dan taat akan perintahNya, membuatnya selalu berhati-hati untuk melakukan sesuatu, apalagi ketika bersosialisasi dengan lingkungan yang baru dikenalnya,
Tirza, dapat dikatakan seseorang yang sulit menerima kondisi lingkungan yang baru, ia memilih diam bila ia tidak suka. Sekalipun ada yang berbuat tidak sopan terhadapnya, takkan ia tampakkan rasa marah dan kesalnya, ia hanya diam. Selalu berfikir positif, bahwa mungkin ada kesalahan dalam dirinya yang membuat orang lain berbuat tidak baik terhadapnya. Maka, bukan cacian yang kemudian ia lontarkan sekalipun seseorang tersebut membentaknya, bukan kata-kata kasar yang ia balas, namun selalu bertanya pada diri sendiri, "apakah yang telah dirinya lakukan, sehingga orang tersebut membentaknya, menyalahkannya. Mungkin inilah jawaban dariNya, karena hari-hari sebelumnya ia meminta untuk diberikan kemampuan untuk selalu kuat dalam menjalankan hidupnya". Maka diperbaikilah sikapnya selalu, setiap harinya.
Sebagai anak yang beruntung karena mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan pendidikannya di tingkat D1. Dia memanfaatkan hari-hari belajarnya dengan baik, sungguh-sungguh. Kala itu sempat juga dirinya mendapatkan ilmu kewirausahaan. Kesempatan itu dia manfaatkan juga dengan baik, berjualan makanan, yang memang sejak kecil, Tirza dibiasakan berwirausaha, berjualan makanan untuk membantu orang tuanya, dan untuk membiayai sekolahnya sendiri. Bahkan dia memulainya semenjak kelas 6 SD. Dimana pada umumnya anak-anak seusia tersebut sedang menikmati masa ABG nya, bersenang-senang dengan temannya, bermain setiap harinya. Ada juga yang bilang, inilah masa-masa bandelnya anak-anak ABG.
Usaha yang awalnya adalah tugas dari dosen, dia manfaatkan benar-benar untuk membiayai kehidupan sehari-hari, terutama untuk ongkos dari rumah ke kampusnya yang lumayan menguras kocek, karena harus berganti angkutan umum. Maka muncul lah idenya untuk mengajak beberapa temannya berinvestasi untuk menjalankan usahanya. Bersyukur, memiliki teman yang care, membuat usahanya berjalan dengan lancar. Silih berganti dagangan tersebut dibawa oleh teman-temannya, karena kebetulan memang mereka tidak satu kelas. Seminggu, dua minggu, 1 bulan, hingga akhirnya 3 bulan, usaha tersebut lancar mereka jalankan. Hingga akhirnya, karena memang usaha tersebut dirancang ketika masa akhir perkuliahan, mereka menghentikannya hingga menjelang tugas praktek industri dimulai. Maka, dibagilah hasil usaha ketika itu.
Sukses membiayai transport sehari-hari dengan hasil jerih payahnya sendiri, tidak berarti membuatnya menjadi tenang, karena tantangan didepannya baru saja akan dimulai, yaitu praktek industri. Bagaimana mungkin ia bisa praktek industri, sementara usahanya saja baru dihentikan, bagaimana ia harus membiayai transport untuk modal mencari tempat praktek industri. Mencari tempatnya saja, tidak cukup sehari dua hari. Bahkan harus mencari keluar kota untuk mendapatkan tempat yang sesuai dengan kriteria tugas yang diberikan oleh dosen. Bagaimana juga untuk biaya transport dan makan sehari-harinya selama praktek industri.
Tidak habis akal, Tirza bersama seorang temannya, Gema, dengan hanya bermodal nekad kuat, melamar pekerjaan ke sebuah kedai makanan cepat saji di sebuah mall, di kota Bogor. Iklan yang terpampang di koran, yang membuat mata melirik, mencari tahu lebih lanjut akan profesi yang sesuai dengan bidang studi mereka tersebut, ternyata hanyalah iming-iming belaka. Tak lantas begitu saja, mereka mendapatkan posisi tersebut. Akan tetapi, banyak tahapan yang harus mereka lalui untuk mencapainya. Dimulai dari menjadi seorang pelayan!
Pekerjaan yang awalnya sempat terfikir rendah di mata mereka. Ya, ketika mereka dipanggil interview oleh seorang supervisor kedai makanan tersebut, mereka malah ditawari menjadi seorang pelayan. Sebenarnya tak masalah bagi mereka menjadi pelayan, namun, bagaimana nanti, bagaimana jika ada rekan kampusnya yang melihat mereka menjadi pelayan??!
Dengan berfikir matang-matang, diskusi pendek diantara mereka, akhirnya mereka mengambil kesempatan tersebut. Menjadi seorang pelayan freelance! ya, profesi yang sebelumnya tak pernah terbayangkan.
Menghidangkan makanan, membawanya ke meja customer, dimarahi seenaknya oleh senior, berdiri sepanjang hari untuk menyebarkan voucher diskon, dimarahi lagi karena tertangkap basah duduk, kembali ke dapur memasak untuk customer, dimarahi lagi karena porsi nya yang terlalu banyak, menunduk, menerima cacian, kemudian beranjak untuk mencuci piring, kemudian beranjak mendekati eskalator dengan banyak voucher di tangan, menebar senyum ramah kepada orang-orang yang berlalu lalang di sekitar eskalator. Begitulah, 2 hari dalam seminggu dilalui mereka. Sabtu-minggu yang biasanya dilalui dengan bersenang-senang, weekend yang biasa anak-anak remaja lainnya habiskan dengan menonton film yang seru, keren, heboh, romantis, horor di bioskop, atau kegiatan seru lainnya yang biasa anak-anak remaja lainnya lakukan di hari weekend. Tapi tidak untuk Tirza dan Gema. Mereka bekerja keras, mereka berpeluh keringat, mencari nafkah untuk membiayai transport + makan selama masa pencarian tempat praktek industri. Sampai akhirnya mereka lulus kuliah dan mendapatkan pekerjaan tetap.
Tidak berhenti disitu, pekerjaan tetap yang Tirza dapatkan, tak lantas membuatnya bisa bersantai ria. Namun kali ini, Tirza dapat meluangkan waktu weekend nya untuk belajar bersama dengan teman-temannya dikampus dulu. Menghafal al-qur'an, saling sharing pengalaman dan ilmu, bersilaturahmi, menghadiri kajian meskipun sangat jarang, dan kegiatan bermanfaat lainnya. Disisi lain, masih ada beban yang melandanya, yang memenuhi memori otaknya, membuatnya rumit, membuatnya harus berfikir keras. Karena apa? Karena keluarganya dililit hutang 10 juta rupiah!
Bagaimana mungkin seorang anak yang baru lulus kuliah D1, harus memikirkan bagaimana cara melunasi hutang yang nominalnya begitu besar. Jangankan untuk menggunakannya, bahkan untuk melihat seberapa banyaknya lembar uang tersebut juga belum pernah. Hanya sering mendengarnya ketika sekolah dulu saat pelajaran akuntansi. Bagaimanalah, Tirza hanyalah gadis lugu, tak banyak yang dapat ia perbuat. Ia menerimanya, ia tak banyak bertanya kemana uang tersebut mengalir. Sekarang tugasnya adalah melunasi hutang tersebut, agar tak ada lagi debt collector yang seenaknya mencaci orang tua, baik ditelepon ataupun datang langsung ke rumah, agar tak ada lagi ancaman-ancaman mengerikan dari debt collector. Hanya itu yang dia fikirkan. Tak apalah uang bulannya habis, tak bisa membeli apa-apa. Tak apalah, asalkan keluarganya aman. Kebahagiaan karena materi bisa didapat nanti, namun kebahagiaan karena adanya keluarga yang lengkap, sangat jarang dirasakan oleh orang-orang di jaman sekarang. Selalu bersyukur, selalu bersyukur. Itulah yang Tirza terapkan dalam hidupnya, instrospeksi diri agar jauh lebih baik. Tak peduli dengan teman-temannya yang lebih dulu sukses, ia senang melihatnya, tak boleh iri, tak boleh. Ada masanya sukses, ada masanya masih harus berjuang keras. Masing-masing orang mempunyai masa bahagia dan perjuangannya. Semua sudah diatur skenario nya. Tenang, tenang dan tenang.
Itulah sepotong kisah hidup Tirza, anak muda yang selalu berjuang melalui kerasnya hidup.
Ini kisah nyata, dan belum berakhir. Ia masih harus melanjutkan hidupnya, masih harus bernafas demi orang-orang yang ia sayangi. Dan tak kalah penting adalah menebar manfaat baik untuk orang-orang disekitarnya, berbagi ilmu, berbagi pengalaman. Itulah yang kini Tirza lakukan, selalu bersyukur, dan ingat! Semua yang diperjuangkan di dunia ini, akan selalu dipertanggungjawabkan di hari akhir nanti. Lagi-lagi ia selalu ingat bahwa, Ada masanya, selalu ada masanya, bahagia dan perjuangan keras.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar